Tim Jetschool Academy · 26 Agustus 2026
JAKARTA - Isu aparatur sipil negara (ASN) digantikan artificial intelligence (AI) menghangat setelah kalangan DPR menyoroti potensi efisiensi pegawai akibat digitalisasi. Respons pemerintah pun keluar cepat.
Menteri PANRB Rini Widyantini dan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Zudan Arif Fakrulloh sama-sama menegaskan bahwa AI hanya akan menjadi alat bantu kerja, bukan pengganti ASN.
"Kami memposisikan artificial intelligence sebagai alat bantu untuk memperkuat kualitas analisis dan pelayanan publik, bukan sebagai pengganti seluruh peran ASN," kata Rini saat dihubungi, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, kehadiran AI memang bisa mempercepat pekerjaan, mulai dari pengolahan data dalam jumlah besar hingga penyajian informasi yang lebih utuh sebagai dasar pengambilan keputusan.
Meski begitu, ada sejumlah peran yang tetap tidak bisa dialihkan ke mesin. Contohnya pertimbangan kebijakan, penilaian konteks sosial di lapangan, tanggung jawab administratif, serta empati dalam melayani masyarakat.
"Hal-hal tersebut tidak dapat didelegasikan kepada mesin. Karena itu, efisiensi yang kami maksud adalah efisiensi proses kerja," jelasnya.
Dengan pekerjaan rutin yang dipercepat AI, lanjut Rini, ASN justru mendapat ruang lebih besar untuk fokus pada pekerjaan yang bernilai tambah bagi masyarakat.
Pesan serupa disampaikan Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh. "AI itu alat bantu kerja yang bisa mempercepat proses pekerjaan tertentu," kata Zudan saat dihubungi, Selasa (25/8/2026).
Dia menyebut semua hal terkait ASN masih berjalan sesuai kebutuhan. "Semua berjalan natural, biasa dan sesuai kebutuhan. Wajar wajar saja, belum ada yang mendesak," tuturnya.
Zudan menambahkan belum ada bahasan lanjut di internal BKN soal wacana pengurangan pegawai akibat AI. Faktanya, BKN justru sedang aktif menggenjot adopsi teknologi ini, termasuk rencana memetakan talenta 6,7 juta data ASN serta melatih ribuan pegawai dalam kepemimpinan digital.
Percikan isu ini berawal dari rapat kerja Komisi II DPR dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Senayan, Jakarta, Senin (24/8/2026). Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf menilai digitalisasi perlu diikuti evaluasi kebutuhan jumlah ASN di daerah.
"Kalau dulu kita memerlukan ada dua tiga orang untuk membuat sebuah presentasi, sekarang tidak perlu," kata Dede.
Ia mencontohkan kantor kecamatan yang saat ini bisa memiliki puluhan pegawai. Padahal, dengan adanya digitalisasi, jumlah tersebut dinilainya tidak lagi semestinya.
Pernyataan itu sempat menjadi perbincangan luas hingga akhirnya direspons langsung oleh kementerian dan lembaga terkait.
Bagi ASN maupun pekerja profesional lain, sinyalnya cukup jelas: teknologi tidak akan menggusur manusia secara langsung, tetapi cara kerja lama akan ditinggalkan. Yang dituntut ke depan bukan sekadar bertahan dari AI, melainkan mahir memanfaatkannya.
Pola serupa juga berlaku di dunia bisnis dan karier, seperti dibahas dalam artikel AI Agent: Revolusi Automasi Cerdas di Tahun 2026.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program