Tim Jetschool Academy · 16 September 2026
Tren mengubah foto menjadi bergaya era 1980-an lewat ChatGPT kembali ramai di media sosial. Dengan satu instruksi sederhana, foto masa kini seketika tampil seperti jepretan analog dekade itu, lengkap dengan gaya rambut khas, pencahayaan hangat, dan efek film retro.
Di tengah cuaca panas dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah, muncul pertanyaan yang viral di X pada 9 September 2026. Bukankah data center AI memakai air dalam jumlah besar, sementara jutaan orang ramai-ramai meminta ChatGPT menggambar wajah mereka bergaya 80-an? Benarkah satu gambar bisa menyumbang krisis air?
Tren yang populer dengan frasa "Chat, bagaimana aku kalau hidup di tahun 80-an?" menyebar luas di Instagram dan platform lainnya. ANTARA mencatat, fitur ChatGPT Images membuat siapa saja bisa mengunggah foto lalu meminta perubahan gaya tanpa aplikasi penyuntingan manual.
Kekhawatiran soal dampak airnya sempat ramai setelah seorang pengguna X mengkritik orang-orang yang sibuk mengeluh soal kepanasan dan kekeringan, tetapi tetap ikut tren tersebut. Unggahan itu mengklaim 3 juta orang sudah ikut serta.
Angka pastinya memang sulit diverifikasi, namun Kompas.com menyebut tren ini diikuti jutaan orang. Yang jelas, lonjakan permintaan gambar AI itu nyata, dan pertanyaannya wajar: berapa sebenarnya jejak air dari semua aktivitas tersebut?
Pakar siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, menegaskan pengoperasian data center AI memang membutuhkan dua sumber daya besar sekaligus. "Yang satu adalah listrik, yang kedua adalah air," ujarnya seperti dikutip Kompas.com.
Menurut dia, satu data center AI yang beroperasi penuh dapat menghabiskan listrik setara konsumsi sebuah kota kecil. Prosesornya juga panas sekali, sehingga pendinginannya mengandalkan water cooling system dengan kebutuhan air yang "luar biasa besar".
Di Amerika Serikat, permintaan energi sebesar itu bersaing langsung dengan konsumen biasa dan mendorong harga listrik naik. Kondisinya berbeda dengan Indonesia yang harga listriknya ditentukan pemerintah.
Soal angka per pengguna, klaim yang beredar di internet kerap menyesatkan. Estimasi satu pertanyaan ke chatbot membutuhkan 500 mililiter air, misalnya, berasal dari penelitian berbasis model GPT-4 tahun 2024 yang kini sudah tak relevan karena model AI jauh lebih efisien. Google bahkan memperkirakan satu pertanyaan ke Gemini pada 2025 hanya membutuhkan sekitar lima tetes air.
Data United Nations University (UNU) 2026 menunjukkan satu gambar AI standar punya jejak air sekitar 28,6 mililiter, kurang dari satu gelas kecil. Sementara itu, seluruh sistem pendingin data center di AS pada 2023 diperkirakan mengonsumsi 66 miliar liter, kurang dari 1 persen total konsumsi air nasional negara tersebut, jauh di bawah sektor pertanian dan manufaktur.
Fakta itu bukan berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Peneliti Cornell University memproyeksikan data center di AS bisa menyerap 731 miliar hingga 1.125 miliar liter air per tahun pada 2030. Angka tertingginya setara total pasokan air minum tahunan Kota New York.
UNU juga memproyeksikan jejak air global yang berkaitan dengan listrik data center mencapai sekitar 9,3 triliun liter pada 2030. Di Texas, konsumsi air data center yang kini di bawah 1 persen kebutuhan negara bagian diperkirakan menyedot 3 hingga 9 persen pada 2040.
Tekanan sosial pun mulai terlihat. Warga di Texas, New Mexico, hingga Arizona kerap berdemo membawa spanduk "Protect our water" dan "Water for people not AI" untuk menolak pembangunan data center baru. Peneliti BMKG, Muhammad Hafizh Suwandi, mengingatkan air yang dibutuhkan infrastruktur AI harus benar-benar murni, sehingga bersaing langsung dengan kebutuhan rumah tangga dan pertanian. "Air murni berkualitas tinggi yang seharusnya mengalir ke pipa-pipa rumah tangga untuk konsumsi manusia, dialirkan ke sawah petani, atau menjaga ekosistem tetap hidup, kini harus dialihkan demi mendinginkan mesin pengetik otomatis kita," tuturnya.
Ekspansi infrastruktur ini memang tengah berlangsung agresif. Nvidia, misalnya, menyiapkan dana US$105 miliar untuk membangun data center AI OpenAI di Ohio.
Jadi, satu gambar bergaya 80-an tentu tidak membuat sumur desa kering. Klaim bahwa tren tersebut langsung memicu kekeringan berlebihan dan tidak didukung data. Namun bila jutaan orang melakukannya setiap hari, dan data center baru terus dibangun di kawasan yang justru kekurangan air, jejak kecil itu bertambah jadi angka besar. Kreativitas digital ternyata punya jejak fisik yang layak dipahami siapa saja, termasuk pengguna ChatGPT paling aktif sekalipun.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program